Empat Dimensi Iman Kepada Para Rasul

Iman kepada para Rasul mengandung empat dimensi:
1. Mengimani bahwasanya risalah mereka benar-benar dari Allah Azza wa Jalla.
Allah al-Haq berfirman:
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ
“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul.” [Asy-Syu-‘araa’: 105]

Lihat juga QS. Asy-Syu’araa’: 123, 141 dan 160
Allah Azza wa Jalla menyebutkan bahwa mereka mendustakan semua Rasul, padahal hanya seorang Rasul saja yang ada (yaitu Nuh Alaihissallam) ketika mereka mendustakannya. Oleh karena itu, ummat Nasrani yang mendustakan dan tidak mau mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti mereka juga telah mendustakan dan tidak mengikuti Nabi ‘Isa al-Masih bin Maryam Alaihissallam, karena Nabi ‘Isa Alaihissallam sendiri pernah menyampaikan kabar gembira dengan kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke alam semesta ini sebagai rahmat bagi semesta alam. Kata ‘menyampaikan kabar gembira’ ini mengandung makna bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Rasul yang diutus Allah Azza wa Jalla, yang akan menyelamatkan mereka dari kesesatan dan memberi petunjuk kepada mereka menuju jalan yang lurus.

2. Mengimani nama-nama Rasul yang Allah sebutkan dalam Al-Qur-an dan Rasulullah dalam As-Sunnah.
Jumlah Nabi dan Rasul banyak sekali. Menurut riwayat bahwa jumlah Nabi ada 124.000 dan jumlah Rasul ada 315. Adapun yang terkenal ada 25 Rasul. Tentang jumlah ini telah diriwayatkan Ahmad (V/178, 179, 265) dan al-Hakim (II/262) dari Sahabat Abu Umamah. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Hibban (no. 94) dari Sahabat Abu Dzarr. Tentang jumlah Nabi dan Rasul riwayatnya shahih dari Sahabat Abu Umamah dan Abu Dzarr Radhiyallahu anhuma, hanya saja terdapat sedikit perbedaan tentang jumlah Rasul, pada sebagian riwayat disebutkan 313 dan pada riwayat yang lain 315, wallaahu a’lam. Lihat Zaadul Ma’aad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad (I/43-44).
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang para Nabi dan Rasul di dalam Al-Qur-an ada 25, yaitu Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Isma’il, Is-haq, Ya’qub, Yusuf, Syu’aib, Ayyub, Dzulkifli, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, ‘Isa dan Muhammad. Lihat surat Ali ‘Imran: 33; Hud: 50, 61, 84; al-Anbiyaa’: 85; al-An’aam: 83-86 dan al-Fat-h: 29.
Di antara nama para Nabi yang juga disebutkan di dalam As-Sunnah, yaitu Syiit dan Yuusya’ bin Nun. Sedangkan yang diperselisihkan ulama, apakah ia Nabi ataukah hamba yang shalih, adalah Khidhir, Dzul Qarnain dan Luqman. Tentang Khidhir dapat dilihat dalam zhahir surat al-Kahfi ayat 65-82. Khi-dir dan Dzul Qarnain adalah Nabi, sedangkan Luqman adalah seorang hakim. Lihat Fat-hul Baari (VI/382-383) dan ar-Rusul war Risaalah (hal. 17-24) oleh Dr. ‘Umar Sulaiman al-Asyqar. Cet. III/ Maktabah al-Falaah, 1405 H.
Allah memberikan keutamaan sebagian Rasul atas sebagian yang lainnya. Rasul dan Nabi yang paling utama ada lima, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibrahim , Musa, ‘Isa, dan Nuh Alaihimussallam. Kelima Nabi dan Rasul itu disebut Ulul ‘Azmi. Allah menyebut mereka dalam dua tempat, yakni dalam surat al-Ahzaab ayat 7 dan asy-Syuura’ ayat 13.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan ‘Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka per-janjian yang teguh.” [Al-Ahzaab: 7]
Terhadap para Rasul yang tidak kita ketahui nama-nama mereka, maka kita wajib mengimaninya secara global. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu…” [Al-Mu’min: 78]

3. Membenarkan berita-berita mereka yang shahih riwayatnya.
4. Mengamalkan syari’at Rasul yang diutus kepada kita. Dia adalah Nabi terakhir, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diutus Allah Azza wa Jalla kepada seluruh manusia.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya.” [An-Nisaa’: 65]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s